Akhirnya, kangapip bisa nulis konten lagi,  baru belajar juga sih hehehe. Iya sebagai pembuka, kali ini kangapip mau bicara soal pertama kali masuk pondok pesantren  Mari mulai ke pembahasannya.

MINTA DOA&RESTU

Sebelum  melakukan sesuatu, alangkah baiknya kita meminta doa dan restu dari orang orang terdekat, terutama kepada kedua orang tua kita, agar apa yang kita lakukan ada di dalam ridho ilahi sang maha kuasa.

Dan jangan lupa kita juga harus meminta doa restu kepada guru guru terdekat kita, agar dapat berkah hidup dan dapat doa doa terbaik dari nya.

Alhamdulillah saya meminta doa restu hampir ke semua kerabat-kerabat terdekat, karna saya sangat membutuhkan doa-doa merka dan semoga dengan doa-doa merka saya dapat  digampangkan dan diberi kemudahan didalam semua hal,  Amiin.

Tidak doa saja yang saya dapatkan, uang pun saya dapatkan karna banyak sodara soadara yang ingin memberi ongkos  , yaa walau pun tidak banyak  lumayan buat tambah tambah.

Jadi buat teman teman yang mau berangkat mondok  jangan lah kau sia siakan sodaramu itu, pinta doa nya karna segala sesuatu yang dilakukan tanpa doa alhasilnya akan nihil.

MENYIAPKAN PERALATAN

 

  1. Gamis putih (pakaian resmi tahfizh)     3 buah
  2. Baju koko                                                     2 buah
  3. Baju kemeja panjang                                3 buah
  4. Celana panjang bahan                              4 buah
  5. Sajadah                                                         1 buah
  6. Al-Qur’an pojok ukuran sedang         1 buah
  7. Peci putih                                                     3 buah
  8. Dasi                                                                1 buah
  9. Perlengkapan makan
  10. Perlengkapan mandi
  11. Perlengkapan sekolah
  12. Perlengkapan tidur ( sprei, selimut, bantal, guling)
  13. Training (Olahraga)
  14. Kaos (tidak bergambar)                      4 buah
  15. Semua pakaian diberi border nama santri agar tidak tertukar

Santri tidak diperkenankan membawa:

  1. Benda-benda elektronik seperti; hp, walkman, radio, dll
  2. Celana jeans
  3. Kaos bergambar
  4. Buku-buku novel, cerita bergambar, atau sejenisnya
  5. Benda-benda lain yang tidak sesuai dengan lingkungan pesantren

BERPAMITAN DAN BERANGKAT MONDOK 

Dan waktu pun begitu cepat berjalan, sebelum saya berangkat ke pondok pesantren, saya berkeliling kerumah nenek, paman, bibi dan  semua yang bersangkutan dengan keluarga saya untuk meminta doa mereka supaya semakin sholeh tentunya.

Seketika saya berpamitan dan meminta doa pada mereka, air mata ini pun keluar dengan sendirinya sangat sulit untuk di bendungnya, apalagi ketika berpamitan dan berhadapan kepada kedua orang tua saya,

Entah kenapa aiir mata dan hatii ini semakin tidak terbendungkan, dikala itu juga saya seperti sedih bercampur senang.

Dan waktunya berangkatpun sudah tiba, pada waktu itu jam menampakan 12.30 siang, mobil yang mau jadi kendaraan saya nanti di perjalanan pun sudah disiapkan sejak pagi.

Saya di antar oleh kedua orang tua saya dan kami pun menulai keberangkatan kami menuju  pondok pesantren ,kata orang tua saya jarak dari rumah ke pesantrenanya lima jam setengah.

Dalam perjalanan kami berdoa agar selamat sampai tujuan,dalam mobill pun air mata ini masih belum berhenti, sambil memandangii yang ada di pinggir pinggir jalan, dalam hati berkata, tentunya kehidupan di rumah dan di pondok pesantren sangatlah jauh berbeda.

HARI PERTAMA DI PONDOK

Di hari pertama ini, sebagian besar santri sudah datang di pesantren dengan diantar oleh keluarga.

Mereka memilih hari pertama untuk berangkat ke pesantren dengan beberapa alasan yang menarik. Sebagian diantara mereka beralasan memilih hari ini karena bertepatan dengan hari rabu.

Dimana sebagian orang jawa beranggapan bahwa hari rabu adalah hari baik untuk berangkat ke pesantren.

Meskipun hidup di era yang sudah modern, tapi tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak masyarakat yang menggunakan perhitungan semacam ini dengan harapan putra putri mereka betah di pesantren.

Singkat cerita akupun  tiba dilokasi, bapaku menemui pengurus untuk memberikan berkas-berkas sekaligus administrasi yang harus dibayar, sedangkan aku diajak kekobong oleh pengurus.

Aku kira kobong itu tempat menunggu tamu, nyatanya kobong itu kamar untuk santri, maklum guys gak tau 

Tibanya dikobong aku bengong, sedih rasanya melihat santri baru diantarkan oleh keluarganya & saudaranya, sedangkan aku hanya sama bapak,

Pip…!!! aku dikagetkan sama suara itu, ternyata suara bapak yang memanggilku. Aku pun langsung membuang rasa sedihku karna tidak mau menyinggung bpak, karna takut membuat bpak ikutan sedih.

Aku : iya pak, kenapa?

Bapak : bpak gak bisa lama” karna ada kerjaan yang belum bpak kerjakan.

Aku : oh iya pak mari saya anter sampe gerbang pondok.

Aku berjalann sama bpak menuju gebang keluar dan melihat kendaraan yang ditumpangi bpak sampai gak kelihatan, aku pun bingung mau ngapain & harus kemna.

Akhirnya aku memutuskan untuk kembali kekobong dan duduk deket lemari baju & bawaanku, disitu saya merasa asing, melihat semua orang berlalu lalang, melihat santri yang asik makan, ngobrol, bercanda  kejar-kejaran, ada juga yang asik menghafal Al-Qur’an.

Tidak lama rasa sedih itu muncul kembali, karna semakin bingung mau ngapain, akupun menangis teringat mamah, bapak, kaka, temen” & keluarga lainnya.

Dalam benaku, mah,,, maafin aku bila selama ini aku nakal, sekarang aku bingung mau ngpain, mencari yang kenal gak ada yang kenal, ingin pulang rasnya tidak bisa bahkan tidak mungkin.

Akupun semakin menangis,,, tiba-tiba……. Santri senior menyapaku dan merangkulku, bahkan kalau mau dia bersedia memeluku.

Santri Senior : Hey kenapa nangis? kenalin aku Agus

Aku : (langsung menghapus air mata karna malu) aku apip

Santri Senior : Nah gitu dong kalo gak nagiskan gantengnya kelihatan (Rayunya)

Aku hanya bisa tersenyum paksa

Santri senior : Dari pada sendirian, mari saya kenalkan dengan semua santri.

Aku hanya menurut, sesudahnya perkenalan saya diajak berkeliling pondok sambil bercerita kehidupan masing”, karna itu aku jadi akrab banget sama santri senior kang Agus, jadi aku jadi lupa dengan kesedihanku.

HARI HARI DI PONDOK

Bagi teman-teman yang pernah merasakan kehidupan di pesantren, tentunya terkadang merasakan indahnya hidup di pesantren. Ada suka dan ada duka, hidup berjama’ah dengan teman-teman.

Merasakan indahnya kebersamaan, makan bersama, tidur bareng, sholat berjamaah, belajar bareng dan seabrek kegiatan yang sudah ditetapkan oleh pesantren.

Ketika pagi menjelang jam 03.00 kegiatan  pesantren sudah mulai muncul aktivitasnya, ada yang sholat tahajjud, ada yang sudah mandi ada yang tadarrus , belajar dan berbagai macam aktivitas yang layakynya dilakukan oleh seorang santri.

Memang kehidupan dipesantren dapat membuka wacana seseorang tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan tanpa keegoisan semata, ketika ada sahabatnya sakit bersama-sama membantu, mencucikan baju, menjaganya sampai merawatnya hingga sembuh. Subhanallah,

Benar-benar indah bukan?? Ketika shubuh menjelang, bersama-sama kita pergi ke masjid, sholat shubuh berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan tadarrus dan kajian.

Lantas piket membersihkan pesantren agar nampak indah dan bersih. Selepas itu mandi. Ketika sore menjelang, kembali kita menyibukkan diri untuk tetap mengingat Allah, sholat magrib, tahsin, kajian dan belajar.

Akan tetapi, terasa lebih indah apabila semua itu dilaksanakan semata-mata untuk mencari ridho Allah. Seberapapun amal kita apabila dilakukan dengan niat “tabarruj” maka tidak ada berkahnya. Bukan pahala yang didapat.

Satu hal yang membuat aku menjadi bertahan dipesantren adalah sikap zuhud dan kekeluargaannya yang bikin aku betah.
Sewaktu pertama kali aku tinggal dipesantren benar-benar dech…. Serasa berada di “dunia lain”,
Aku yang tak biasa makan bersama dalam 1 piring, aku yang tak biasa mencuci baju sendiri, aku yang tak biasa mengepel lantai,nyapu, buang sampah,membersihkan kamar mandi (piket), merasakan ini benar-benar sebuah paksaan.
Tetapi setelah 1 tahun aku tinggal dipesantren aku baru bisa merasakan betapa nikmatnya hidup di pesantren. Seakan selalu mengingat akhirat dan berlomba-lomba dalam kebaikan, Insya Allah.
Maafin jika tidak menarik & masih kaku kata”nya.
Terima kasih juga telah menyempatkan membaca ceritaku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here